Dampak pada Insentif Fiskal

Bagaimana Global Minimum Tax mengubah lanskap insentif fiskal Indonesia dan solusi GloBE-friendly

Terakhir diperbarui: 21 Mei 2026
📋 Daftar Isi

Masalah: Insentif Fiskal vs GloBE

Salah satu dampak terbesar dari Global Minimum Tax adalah pada insentif fiskal yang selama ini menjadi andalan Indonesia untuk menarik investasi asing. Ketika insentif fiskal menurunkan ETR di bawah 15%, selisihnya harus "ditutup" oleh top-up tax — baik melalui QDMTT maupun IIR. Artinya, manfaat insentif fiskal bisa "hilang" bagi MNE yang terkena GloBE Rules.

âš ī¸
Dilema Insentif Fiskal dalam Era GloBE

Jika Indonesia memberikan insentif fiskal yang menurunkan ETR ke bawah 15%, efeknya bisa "dimakan" oleh top-up tax. MNE membayar top-up tax (QDMTT atau IIR) untuk menutup selisih, sehingga ETR efektif tetap 15%. Insentif tersebut menjadi tidak efektif bagi MNE yang terkena GloBE Rules — MNE tetap membayar 15% walaupun Indonesia memberikan keringanan.

Namun, dari perspektif pemerintah Indonesia, QDMTT memastikan revenue tetap masuk ke kas Indonesia (bukan mengalir ke negara parent). Dari perspektif MNE, insentif menjadi kurang menarik karena net tax benefit = 0.

Dampak pada Tax Holiday

Tax Holiday (bebas pajak atau tarif pengurangan untuk periode tertentu) berpotensi menurunkan ETR secara signifikan — bahkan hingga mendekati 0% selama masa insentif. Ini merupakan insentif yang paling terdampak oleh GloBE Rules.

Skenario Tax HolidayETR EfektifDampak GloBENet Benefit bagi MNE
Tarif tax holiday 0%Mendekati 0%Top-up tax ≈ 15% dari Excess Profit — hampir seluruh benefit hangusTidak ada
Tarif tax holiday 5%≈ 5%Top-up tax 10% harus dibayar (15% − 5%) — selisih 10% ditutup oleh QDMTT/IIRMinimal
Tarif tax holiday 10%≈ 10%Top-up tax 5% harus dibayar (15% − 10%) — setengah benefit hangusSebagian
Tarif tax holiday 15%+â‰Ĩ 15%Tidak ada top-up tax (ETR sudah memenuhi minimum)Penuh
â„šī¸
Implikasi Praktis Tax Holiday dalam Era GloBE

MNE yang menerima tax holiday tetap membayar top-up tax untuk menutup selisih antara tarif efektif dan 15%. Artinya, manfaat tax holiday "hilang" bagi MNE GloBE — ETR efektif tetap 15%. Pemerintah sebenarnya tetap menerima QDMTT (revenue protection), tetapi insentif tidak lagi menjadi daya tarik investasi bagi MNE besar. Tax holiday tetap efektif untuk perusahaan domestik dan MNE di bawah threshold â‚Ŧ750 juta yang tidak terkena GloBE.

Dampak pada Tax Allowance

Tax Allowance (investment allowance berupa pengurangan penghasilan bruto) juga dapat menurunkan ETR karena mengurangi basis kena pajak. Dampaknya tergantung jenis dan mekanisme allowance:

Penting diperhatikan bahwa deferred tax adjustment dalam GloBE computation dapat mengurangi dampak ini. Manfaat timing dari accelerated depreciation menghasilkan deferred tax liability yang diakui sebagai covered taxes — sehingga ETR GloBE tidak menurun sebanyak ETR accounting. Ini memberikan perlindungan parsial bagi MNE yang menerima tax allowance berbasis timing difference.

Dampak pada Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Free Trade Zone

Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) dan Free Trade Zone (Bandara, Pelabuhan, dll.) memberikan berbagai insentif pajak yang berpotensi menurunkan ETR. Dampak terhadap GloBE tergantung pada jenis insentif:

âš ī¸
Implikasi bagi Desain KEK

KEK yang mengandalkan pengurangan tarif PPh Badan sebagai daya tarik utama perlu me-review desainnya dalam konteks GloBE. Insentif berupa pengurangan PPh akan "dimakan" oleh QDMTT untuk MNE GloBE. Pemerintah perlu mempertimbangkan alternatif insentif yang GloBE-friendly (lihat Solusi di bawah).

Solusi GloBE-Friendly

Menghadapi tantangan ini, pemerintah Indonesia perlu mendesain ulang insentif fiskal agar tetap menarik bagi investor tanpa menimbulkan kewajiban top-up tax. Berikut solusi yang direkomendasikan berdasarkan OECD guidance dan praktik terbaik internasional:

1. Refundable Tax Credit

Refundable tax credit adalah solusi yang paling GloBE-compatible. Berbeda dari tax holiday yang mengurangi pajak terutang (covered taxes), refundable tax credit diperlakukan sebagai income dalam GloBE computation:

2. Substance-Based Incentive

Karena SBIE mengkecualikan profit dari payroll dan tangible assets, insentif yang mendorong investasi riil (pekerjaan dan aset) tetap relevan dalam era GloBE:

💡
SBIE sebagai "Insentif Alami"

SBIE secara implisit memberikan insentif bagi MNE untuk berinvestasi secara substansial (bukan hanya mendirikan entitas shell). Negara dengan banyak karyawan dan aset berwujud akan memiliki SBIE yang besar, sehingga top-up tax lebih rendah. Ini membuat insentif berbasis substance tetap menarik — Indonesia dengan basis manufaktur besar justru mendapat keuntungan dari SBIE yang lebih tinggi.

3. Grant dan Subsidi Langsung

Pemberian grant (hibah) atau subsidi langsung kepada investor tidak menurunkan ETR karena bukan merupakan tax incentive. Grant diperlakukan sebagai income dalam GloBE computation (meningkatkan GloBE Income), tetapi tidak mengurangi Covered Taxes. Ini menjadi alternatif yang GloBE-neutral:

4. Percepatan Penyusutan dengan Deferred Tax Adjustment

Accelerated depreciation yang menghasilkan deferred tax liability dapat diperhitungkan dalam GloBE sebagai covered taxes (dengan adjustment tertentu). Manfaat pajak dari percepatan penyusutan tidak sepenuhnya mengurangi ETR dalam konteks GloBE karena deferred tax diakui. Ini berarti accelerated depreciation masih memberikan manfaat cash flow timing tanpa menurunkan ETR secara permanen.

Tabel Komparasi Solusi

SolusiPengaruh ETRGloBE-CompatibleCatatan
Refundable Tax CreditTidak menurunkan ETR (diperlakukan sebagai income)Sangat compatibleSolusi terbaik menurut OECD — memberikan manfaat finansial tanpa memicu top-up tax
Substance-Based IncentiveTidak langsung — meningkatkan SBIECompatibleMeningkatkan SBIE → mengurangi excess profit → top-up tax lebih rendah
Grant / SubsidiTidak menurunkan ETR (bukan tax incentive)GloBE-neutralAlternatif non-tax incentive — memberikan manfaat langsung tanpa implikasi GloBE
Accelerated DepreciationDeferred tax adjustment memitigasi dampakPerlu adjustmentTiming benefit yang diperhitungkan dalam GloBE — cash flow benefit tetap ada
Tax Holiday (tarif rendah)Menurunkan ETR → top-up tax menutup selisihTidak compatibleTimbulkan top-up tax — benefit hangus untuk MNE GloBE
Tax Allowance (allowance)Berpotensi menurunkan ETRRisiko terbatasDeferred tax adjustment memitigasi sebagian — tergantung jenis allowance

QDMTT dan Insentif Fiskal

Dari perspektif pemerintah Indonesia, QDMTT memberikan keuntungan ganda dalam konteks insentif fiskal:

  1. Revenue protection: QDMTT memastikan Indonesia tetap memungut pajak atas profit yang dihasilkan di Indonesia, meskipun ada insentif fiskal yang menurunkan ETR. Revenue dari QDMTT menggantikan revenue yang "dihilangkan" oleh insentif fiskal.
  2. Kedaulatan fiskal: Indonesia memutuskan sendiri apakah akan memungut QDMTT atau memberikan kelonggaran tertentu. Pemerintah dapat memilih untuk tidak mengenakan QDMTT atas jenis income tertentu (sesuai fleksibilitas GloBE).

Namun, dari perspektif MNE, kombinasi insentif fiskal + QDMTT berarti insentif menjadi kurang menarik karena manfaat pajak "ditutup" oleh QDMTT. Oleh karena itu, desain ulang insentif menjadi sangat penting — pindah dari insentif berbasis pengurangan tarif ke insentif berbasis refundable credit, substance, dan grant.

Baca juga: QDMTT Indonesia untuk mekanisme pemungutan domestik, Siapa Terdampak? untuk daftar sektor dan kriteria MNE, dan Perhitungan ETR untuk detail formula.